Sunday, July 8, 2018

Pintu Kenangan


"Ketika ku berdiri di pintu itu, hati ini berdetak seperti merasakan kehadirannya"

          Seharian ini ku lalui bersama sahabat- sahabatku. Kami makan bersama di restaurant yang cukup bergengsi, mengabadikan moment - moment kebersamaan kami melalui foto dan juga melanjutkan wisata kuliner ke berbagai tempat lainnya. Intinya aku dan mereka sangat bahagia hari ini karena dapat melalui hari bersama setelah sekian lama tak berjumpa.

          Ketika kita begitu menikmati setiap kegiatan yang kita lakukan, kita akan melupakan waktu yang terus berputar. Tanpa sadar matahari sudah kembali ke pesinggahannya di ufuk barat. Langit sudah gelap dan sudah saatnya kita harus pulang ke rumah masing - masing.

          Kita berpisah di suatu tempat yang dulu sering kita kunjungi saat masih bersekolah dan tempat itu pula yang membuat hati ini tiba- tiba saja tak karuan. Awalnya aku bingung ada apa dengan jantung ini ? Tiba- tiba saja ia berdetak dengan sangat cepat hanya dengan melihat sebuah pintu.

          Namun selang beberapa saat akhirnya aku pun mulai menyadari, bahwa tempat dimana ku sekarang berpijak adalah tempat yang penuh kenangan, karena tempat itulah dimana kali terakhir aku berpisah dengan dia. Dia yang dulu pernah mengisi relung hati ini.

          Beberapa tahun silam aku mengenal dia sebagai sosok lelaki yang perhatian, sangat taat pada agama, baik dengan semua orang, tidak ada yang special dari dirinya. Ia hanyalah sosok pria yang kasat mata di antara begitu banyak pria diluar sana yang memiliki kelebihan jauh di atas dia. Pada suatu hari entah bagaimana ceritanya Tuhan mempertemukan aku dengan dia di suatu kegiatan perkemahan, dan aku mengenal sisi lain dari dia.

          Dia yang selalu membantuku dan teman- temanku dikala kami mengalami kesulitan di hutan. Dia yang ternyata sangat bawel, memiliki banyak ide kreatif, sangat peduli terhadap semua temannya, dan ia ternyata jago dalam bidang olahraga seperti basket dan futsal maupun music seperti gitar dan piano. Bahkan ia pun telah memiliki band sendiri di sekolah lamanya yang sudah berapa kali tampil di kafe- kafe kecil. Namun mungkin karena sifatnya yang tertutup ia tak di kenal banyak orang.

          Tak terasa waktu pun berjalan dengan sangat cepat, sudah 3 tahun kita bersahabat. Namun tanpa ku sadari tumbuh rasa lain selain persahabatan. Yang mungkin kita kenal dengan Cinta ? Jujur sejak kecil aku tidak mengenal kata cinta, apalagi merasakan namanya jatuh cinta. Makanya aku takut salah mengartikan perasaan ini. Dan aku pun berusaha menutupi semuanya agar tidak merusak hubungan yang telah kami bangun selama ini.

          Hingga kita sudah tumbuh dewasa dan jarak pun memisahkan kita. Ia akan melanjutkan studinya di Hongkong sedangkan aku akan langsung memasuki dunia kerja. Hari itu 1 hari sebelum keberangktannya, aku dan dia pun memutuskan untuk bertemu dan menghabiskan hari bersama.
Pada hari keberangkatannya esok hari, aku tak bisa mengantarkannya ke bandara dikarenakan aku harus mengikuti wawancara pekerjaan yang sangat penting. Dan pada hari itu kami pun memutuskan untuk menciptakan memori sebanyak- banyaknya untuk di kenang.

          Canda, tawa dan senyuman selalu menghiasi wajah kami . Hingga di penghujung hari, sudah waktunya aku untuk pulang begitupun dengan dia. Namun hati ini rasanya sangatlah berat. Kita melangkah dalam diam dan perlahan, berharap waktu berhenti agar kita tetap bersama. Namun sepelan apapun kita berjalan, tanpa sadar pintu keluar pun sudah di depan mata. Ketika ku melangkah melewati pintu itu, dia pun menggamit lenganku dan mengungkapkan segala isi hatinya, perasaan yang sudah lama ia pendam, perasaan yang sama dengan yang ku rasakan selama ini.

          Aku hanya bisa terdiam, dan meneteskan air mata saat mendengar semuanya, karena perasaan yang ku pendam selama ini ternyata mendapat balasan. Namun, hubungan kami harus berakhir sebelum benar- benar dimulai. Karena kami sadar jarak dan waktu yang memisahkan kami akan membuat kami kesulitan dalam berkomunikasi maupun berhubungan. Banyak alasan lain di balik alasan itu, tapi tak perlu kami ungkapkan satu- persatu. Hanya dalam tatapan mata, kami sudah mengerti bahwa hubungan kami tak akan berjalan nantinya.

          Air mata ini sudah semakin sulit ku bendung, ia pun memelukku dan berusaha menenangkanku dan juga sebagai tanda perpisahan. Itulah kali terakhir kami bertemu dan berkomunikasi. Karena setelah hari itu, ia menghilang tanpa jejak seperti terbawa arus air.

          Sejak saat itu, setiap aku kembali ke pintu ini aku hanya akan terdiam disana, dan hati ini akan terus berdetak kencang seperti merasakan kehadirannya di sekitarku, walaupun ku tahu sangat kecil kemungkinan dia akan muncul disana, namun hati ini masih terus berharap pada kemungkinan sekecil apapun itu.

          Walaupun pintu itu sudah berubah bentuk dan warna, namun kenangan yang pernah kami buat sudah terpatri disana, dan akan selaluku kenang. Biarlah pintu itu menjadi saksi bisu tentang hubungan kami :).

Hello guys, kali ini aku kembali dengan menulis cerpen hehe .. 
Maaf kalau kurang bagus yah, semoga kalian enjoy dengan cerita ku ini ;) 
Kalau kalian suka aku tulis cerpen- cerpen lagi bole comment yah atau message aku, jadi aku bakal lebih sering ketik cerita hehe

Thankyou Guys 

Ig : @slvia28
Ig : @slviawijaya28